6 Penyebab BAB Berdarah Pada Anak Yang Perlu Diwaspadai

SHARE DAN TAG TEMANMU DI :

Orang tua mana yang tak panik saat saat menemukan darah keluar dari tubuh si kecil. Darah yang keluar bisa disebabkan oleh hal sepele, seperti luka di kulit hingga terjadi sesuatu di tubuh. Namun apapun penyebabnya, darah yang muncul dari tubuh si kecil bisa menjadi sebuah kondisi kesehatan yang mungkin membahayakan. Termasuk saat bunda menemukan feses si kecil berdarah saat BAB (buang air besar). Sebenarnya apa penyebab BAB berdarah? dan apa yang harus dilakukan? ketahui jawabannya dengan menyimak ulasan berikut.

Berbagai penyebab BAB berdarah yang perlu diwaspadai

penyebab bab berdarah pada anak

Sejatinya, penyebab munculnya feses anak saat BAB tidak bisa disamakan. Hal tersebut karena terdapat beberapa faktor yang berbeda. Umumya, kepekatan warna serta btekstur darah bisa membantu mempermudah dokter untuk mendiagnosis dari mana darah tersebut berasal. Darah yang yang berwarna merah menyala umumnya diakibatkan karena adanya masalah pencernaan bagian bawah (mendekati anus).

Sedangkan, jika bunda menemukan feses telah mengental atau berwarna kehitaman, maka umumnya dipicu akibat masalah pada perut bagian atas saluran pencernaan. Dan berikut berbagai pemicu BAB berdarah pada anak yang perlu bunda ketahui sekaligus waspadai.

1. Sembelit

Tak sedikit BAB berdarah yang terjadi pada anak disebabkan oleh masalah sembelit. Saat sembelit, feses anak akan menjadi lebih keras sehingga bisa melukai anus. Dan hampir 90% penyebab BAB berdarah pada anak disebabkan oleh kondisi ini, Adapun dengan kata lain, luka pada anus inilah yang merupakan penyebab paling umum feses anak berdarah. Untuk menghindari masalah sembelit terulang kembali, sebaiknya pastikan asupan serat anak terpenuhi setiap harinya.

2. Abses anus

Anak yang memiliki riwayat sering sembelit dan diare umumnya juga memiliki resiko mengalami abses pada anus. Abses anus umumnya muncul saat terjadi infeksi pada luka disekitar anus, yang dipicu oleh bakteri yang dapat memicu keluarnya nanah yang disertai rasa nyeri.

Apabila si kecil mengalami kondisi tersebut, gejala yang timbul umumnya ialah sering merasa terganggu serta adanya benjolan di sekitar anus yang disertai keluarnya cairan. Jika berbagai gejala tersebut terdapat pada si kecil, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

3. Infeksi saluran pencernaan

BAB berdarah pada anak juga bisa dipicu akibat infeksi bakteri, virus serta parasit di saluran pencernaan anak. Infeksi ini tak jarang menyebabkan diare yang bercampur darah pada anak. Adapun beberapa jenis bakteri yang bisa memicu kondisi tersebut diabtaranya seperti Salmonella, E. Coli serta Shigellosis.

Selain bakteri virus juga diketahui bisa memicu infeksi, seperti salah satunya Rotavirus. Bahkan ada juga BAB berdarah yang disebabkan oleh parasit Giardia Lambia, yang mana tak hanya menyerang anak namun juga menyerang berbagai usia. Adapun selain mengalami BAB berdara, tanda lainnya saat anak mengalami infeksi saluran pencernaan ialah disertai dengan demam tinggi, lesu serta sakit pada bagian perut hingga anus.

4. Peradangan usus

Kondisi yang satu ini merupakan kondisi yang cukup kronis, lantaran adanya peradangan pada usus. Kondisi yang juga disebut Inflammatory Bowel Disease (IBD) ini, juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab BAB berdarah pada anak. Pada dasarnya, peradangan usus ini terdiri dari dua jenis yang mana melibatkan sistem kekebalan tubuh. Diantaranya yakni Chorn (bisa mempengaruhi bagian organ pencernaan manapun) serta kolitis ulserativa (peradangan pada usus besar).

IBD sendiri umumnya dapat diderita oleh anak usia remaja, namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak usia balita. Selain diare berdarah, gejala IDB lainnya juga meliputi keluarnya lendir dari anus, terjadi penurunan berat badan, lemas hingga mengalami kram pada perut.

5. Polip usus

Meski kondisi ini lebih sering terjadi pada dewasa, namun tak menutup kemungkinan juga terjadi pada anak. Adapun jenis polip usu yang terjadi pada anak ialah polip juvenile, dimana polip tersebut akan tumbuh serta berkembang di musus besar sebelum usia 10 tahun.

Polip juvenile ini merupakan salah satu penyebab BAB berdarah pada anak usia remaja, yang mana bisasanya polip telah berkembang saat anak berusia balita dari 2 hingga 6 tahun. Selain memicu BAB berdarah, kondisi juga umumnya akan menyebabkan anak merasakan sakit pada bagian perut.

6. Fisura anus

Tak sedikit pula kasus BAB berdarah pada anak dipicu oleh fisura anus atau celah pada anus. Selain sembelit, kondisi ini juga umumnya bisa disebabkan oleh diare yang bisa mengiritasi lapisan anus, sehingga anus terluka.

Adapun ciri-ciri anak yang mengalami fisura anus umumnya ialah munculnya garis-garis merah darah terang pada fesesnya. Ataupun pada tisu yang digunakan untuk menyeka. Selain itu menyebabakan BAB berdarah, kondisi ini juga umumnya memicu rasa sakit serta gatal pada area anus.

Bagaimana cara mengatasi BAB berdarah pada anak?

Apabila bunda kini telah mengetahui penyebabnya, maka hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi BAB berdarah bisa lebih efektif untuk dilakukan. Mengingat salah satu penyebabnya ialah sembelit, maka bunda bisa mengubah atau mengatur pola makan anak menjadi lebih baik, yakni dengan menyertakan serat pada makanannya.

Tetap usahakan pola makanan si kecil tetap seimbang, yakni terdiri daripada protein, lemak sehat juga serat. Pastikan juga cairan tubuh si kecil tetap terjaga ya bun. Selain itu, menjaga kebersihan tubuh anak terutama daerah anus perlu di perhatikan. Hal ini juga bisa menurunkan resiko terjadinya infeksi saat terjadi luka pada area tersebut.

Tak hanya BAB berdarah, gangguan pencernaan pada anak juga bisa ditandai dengan hal lainnya. Seperti perut keras, jarang BAB serta fese yang tidak normal. Orang tua sebaiknya selalu peka terhadap setiap kondisi si kecil, sehingga proses pemulihannya lebih cepat serta terhindar dari berbagai komplikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *